Entri Populer

bahasaku bahasa .........

Bahasaku adalah bahasa yang aku mengerti dan aku berharap orang lainpun mengerti. susah memang memahami bahasa bila kita tidak mengenalnya. amati kehidupan, maka kamu akan menemukan bahasa sejati. bahasa sanubari dan ekspresi


Februari 08, 2011

Pantai Sidem


PANTAI SIDEM DAN POPOH MENANTIKU

1 Januari 2010 adalah hari sabtu. Aku usai bangun shalat subuh tidur lagi karena masih kantuk. Kemudian pukul 5.20 WIB bangun dan melaksanakan aktivitas keseharianku menyapu dengan aku awali berdoa, dilanjutkan memberi makan kambing dan lain-lainnya. Pukul 7.00 WIB aku mandi dan kemudian melaksanakan shalat duha yang sudah menjadi kebutuhan bagiku sebanyak yang dibataskan maksimal. Aku berserah diri hanya kepada-Nya yang Maha segala maha. Akupun teringat dengan pesan sms yang aku terima dari temanku Clarita yang katanya mau MC di POPOH Tulungagung dan aku diminta untuk bisa melihat ia ngeMC. Akupun bergegas dan kemudian pamit kepada ibu dengan membawa uang secukupnya dan tak lupa kamera. Aku semula berencana pergi sendiri ke popoh, namun mengingat semalam aku kurang tidur maka aku memutuskan untuk mengajak Roy, adik pramuka yang menjadi binaanku di MPI Cendono. Tujuanku selain memintanya menemaniku adalah aku berusaha mengajarkan padanya kalau dunia tak sempit yang seperti ia lihat saat ini. Selain itu ia juga belum pernah ke pantai sehingga ini adalah pengalamannya yang baru selain aku pernah mengajaknya ikut seminar Internasional sebagaimana ia menjadi peserta paling kecil.
Aku menuju ke rumahnya dan mendapati ibunya yang sedang memasak untuk persiapan kirim ke sawah. Aku lihat nasi yang ada diatas meja dan akupun di temui ibu Roy dan dipersilahkan masuk. Aku masuk dan ngobrol dengan ibunya dan menyampaikan maksud tujuanku ke sini. Ibu Roy tidak keberatan dan bahkan memberitahu kalau Roy masih di suruh membeli timba di salah satu toko yang ada di sekitarnya. Akupun menunggu hingga beberapa saat,dan setelah Roy kembali aku memberitahunya dan iapun menyiapkan diri dengan berganti pakaian. Aku sengaja tidak mengajak cewek yang aku suka karena aku tahu ia sangat sibuk dan belum tentu juga bisa. Makanya aku memilih orang yang bisa aku ajari ilmu yang aku meliki untuk menambah wawasannya. Ketika di rumah Roy akupun sms Clarita kalau aku jadi ke Popoh, iapun membalas “ Woy aku gak jadi, mas wawan memintaku di studio”. Akupun jadi heran dan hamper gak percaya. Namun karena aku dah bilang ke Roy maka aku putuskan untuk tetap melaksanakan niatku saraya mau tahu apa yang terjadi di Popoh saat tahun baru.
Roy pun sudah siap dan akupun mengajaknya berangkat, ia pamit pada ibunya dengan penuh doa. Sedangkan Aminah kakaknya yang juga adik kelasku di MAN Kandat menitipkan uang untuk beli ikan Salem senilai Rp 10.000,-. Kami berangkat dengan sangat senang sambil bicara namun tetap focus pada arah jalan. Cendono,Branggahan, keras dan akhirnya sampailah di Tulungagung. Kamipun melaju dengan kencang menuju arah popoh dengan melihat papan arah yang ada di sepanjang jalan. Wah jalan sangat ramai dan serasa sulit menembus keramaian tersebut tanpa nyali. Akupun menjalankan motorku dengan melikuk-likuk agar bisa cepat sampai. Sesekali kami berhenti di SPBU untuk mengisi kendaraan dengan bensin seharga Rp.10.000,- dan membayarnya dengan uang 20 ribuan. Usai itu melanjutkan perjalanan dan kamipun memasuki wilayah, Boyolangu, wilayah Campur Darat dan memasuki wilayah Besuki. Aku hentikan motor sebentar di salah satu masjid untuk beristirahat sambil buang air kecil dulu. Karena tempat inilah yang sangat efektif untuk istirahat di sela rasa capek. Setelah cukup reda capeknya kami melanjutkan perjalanan dan sudah mulai memasuki wilayah tanjakan yang cukup menantang. Jalan berlika-liku dan sangat asyik, aku pacu sepeda motor dengan memasukkannya ke gigi roda 2 dan sambil melihat pemandangan. Sekali-kali kami disalip oleh kendaraan lain dan kamipun hanya tersenyum. Biarkanlah berlalu yang penting kita juga sampai.
Akhirnya tujuan yang di cari sudah ketemu, kami memasuki wilayah pantai. Kami melihat antrian orang membeli tiket masuk. Dari speaker yang ada di ruang tiket terdengar suara “ para pengunjung yang terhormat, demi kelancaran wisata anda semua, silahkan yang dibonceng turun untuk membeli tiket senilai Rp.7.500,- dan anda bisa melanjutkan perjalanan. Akupun berhenti dan memberiakan uang ke Roy senilai sepuluh ribu dan memintanya mengantri tiket sementara aku langsung menuju ke sebelah gerbang masuk menunggu bersama para pengunjung lainnya. Seusai itu, Roy naik dan aku suruh membawa tiketnya dan motor aku pacu menuju pantai sidemnya. Di jalan aku melihat ada anak Pecinta Alam yang sedang berjalan dan ternyata mereka baru saja melaksanakan jalan “Jelang Fajar” yang diselenggarakan oleh PMI Tulungagung. Aku tau karena aku melihat ada panggung musik yang ada tulisannya. Aku tak berhenti di sana dan aku lebih memilih langsung ke pantainya. Sesampai dipantai aku parkirkan sepeda motor di tepi jalan yang berdebu lebat dan motor aku kunci ganda. Lalu dengan memakai topi dan tetap mengenakan jaket aku bersama Roy menikmati pemandangan pantai Sidem.
Air yang ada dipantai saat itu kecoklatan dan disisi kana nada anak-anak yang sedang main pasir sementara orang tuanya dengan senangnya memfoto mereka, ada yang sedang kasmaran dan di sebelah kiri ada bapak-bapak yang sedang menarik tali yang panjang dengan bekerja sama yang baik. Aku tidak tahu apa yang ditariknya. Sedang dibelakangku berjajar penjual minuman dan makanan ringan yang melengkapi suasana pantai. Aku memandang lepas ke pantai dan aku mendapati perahu-perahu besar sedang melaut di tengah pantai yang kelihatan sangat kecil dari arah aku memandang. Sementara Roy sibuk dengan bermain air. Subhanallah, Maha Besar Allah yang telah menciptakan alam semesta dengan kelengkapannya. Usai puas memandang laut aku mencoba berfoto diatas batu dengan bergantian


 







Serasa puas di Pantai Sidem dan juga rasa panas yang tak mampu aku tahan karena puasa maka kami bergegas menuju Popoh dengan menempu jarak yang tidak begitu jauh. Saat melewati jalan ke arah popohnya, kendaraan sepeda motor sudah membeludak dan betul ketika sampai diarea yang mulai menyewakan parkir antrinya bukan main bahkan sampai menolak. Akupun terus jalan dengan santai dan mencari tempat parkir. Sejenak aku melihat ada sepeda motor yang cukup banyak dan tanpa kartu parkir yang berada di sebelah pos keamanan. Maka akupun memutuskan untuk berhenti di situ dan parkir sepeda motor. Motor aku jagang tengah dan helm aku gantungkan di sisi kanan dan kiri motor dan berjalan meninggalkan motor.
Baru beberapa langkah aku dikejutkan dengan teriakan “ he siapa yang parkir sepeda motor di sini? “ akupun menoleh dan melihat orang tersebut memandang ke arah sepeda motorku. Ia melihatku dan bilang” kamu yang punya sepeda motor ini?”
Akupun menjawabnya”Iya pak.”
Kalau motor ini tidak dipindah, maka aku genjes ban motor ini, mau? Tukasnya mempertegas. Masak parkir Rp.2.500 saja gak mau? Siapa yang bertanggung jawab kalau hilang.
Akupun segera menuju ke arah sepeda motorku dan kemudian membuka kunci gondoknya dan berjalan memarkirkan sepeda motor ke tempat yang benar. Usai itu berjalan-jalan dengan suasana yang sangat berhimpit-himpitan. Antara pengunjung dan juga para penjual yang saling tawar-menawar tidak dapat dielakkan. Meskipun jalan yang aku lewati berhimpit-himpitan dengan suasana yang semakin panas, aku tidak mau menyerah. Roy aku ajak lebih mendekat ke lokasi konser dangdut diadakan. Lokasinya yang tepat di sebelah kanan pendopo. Dengan kegigihan menerobos jalan akhirnya kami sampai juga di lokasi dangdut dan aku lihat MCnya berasal dari Kembang Sore FM. Aku mencoba menyelami kata-kata yang diucapkannya dan sangat menyayangkan Clarita tidak dapat ikut MC. Aku melihat dari jarak cukup jauh,kira-kira 15 meter dari panggung karena penontonnya banyak dan selain itu depan panggung penonton harus duduk supaya yang belakang bisa melihat. Ketika sang artis tampil dengan baju seksinya dengan celana pendek, para lelaki muda yang terbiasa joget berjoget di depan panggung ada kuran lebih 20 orang, ada yang dipanggul temannya hingga sampai terjatuh pula. Aku mengambil gambar dari sisi kiri panggung diatas plastaran yang disekitarnya mengalir air dari selang yang ada di sana. Aku melihat dangdut cukup 2 lagu. Usai itu aku pergi menemui saudaraku yang juga menonton di sana. Ia heran ketika aku berada di sana, dan kami hanya ngobrol sedikit karena aku segera pergi untuk mencari udara segar di tepi pantai.
Aku dengan Roy turun ke pantai dan mencoba mencari kerang-kerang namun tidak dapat. Aku hanya bisa mengambil gambar-gambar sementara Roy sibuk melihat hasil erupsi yang berharap ada hewannya dan bisa diambil dan dibawanya pulang. Karena tidak dapat-dapat dan waktu sudah menunjukkan pukul 11.15 WIB WIB maka aku ajak ia pulang. Kami jalan menyisir pantai yang tumbuh karang-karang dan menuju ke tempat penjualan ikan untuk membeli ikan pesanan. Kami membili ikan salem dengan uang sepuluh ribu dan dapat 6 ikan. Usai itu mengambil sepeda motor dan pulang. Dalam perjalanan pulang jalan sekitar lokasi macetnya bukan main dan sampai di pertigaan aku diarahkan ke kiri dan aku mengikuti saran petugas dan akhirnya aku sampai lagi di Sidem. Karena tujuanku pulang maka aku kembali lagi dan sampailah di depan loket masuk dan sekaligus jalan keluar. Di sana tidak lama kemudian di beritahu oleh salah seorang polisi agar aku berbalik dan lewat jalur jalan Sidem karena jalan utama macet lebih dari 2 km, beliau bilang dari pada tidak bisa kembali atau tertahan. Maka aku menuruti sarannya dan aku lewat jalur Sidem. Aku terus menyusuru jalan dan mengikuti petunjuk yang ada hingga akhirnya aku sampailah di Bandung dan aku mulai mengerti jalan terutama ke arah Campur darat. Aku mengambil arah itu hingga akhirnya aku bisa menemukan jalan yang aku lewati semula dan kembali ke Kediri. Perjalanan cukup panjang dan melelahkan, sesampai di Tulungagung kota aku berhenti di masjid At-Takwa yang biasa aku singgahi saat di Tulungagung yang berada di barat Radio Jossh. Kami istirahat di sana dan sambil ngecas HP serta sms Clarita beberapa kali saja meminta keterangan mengapa tidak jadi siaran di Popoh. Ia memberitahuku kalau pihak menejernya meminta harga yang cukup tinggi dan pihak sponsor tidak mampu membayarnya.
Karena istirahat sudah cukup aku ajak Roy shalat duhur berjamaah dan setelah itu pulang. Kami melanjutkan perjalanan pulang dan sampai di rumah jam 2 siang. Aku istirahat hingga waktu ashar tak terdengar olehk suara adzan. Aku bangun, mandi dan shalat ashar kemudian melakukan aktivitas nonton TV sambil bernostalgia tadi siang.

Sidem asyik

The Hangman's Daughter

Tidak ada komentar:

Posting Komentar