Entri Populer

bahasaku bahasa .........

Bahasaku adalah bahasa yang aku mengerti dan aku berharap orang lainpun mengerti. susah memang memahami bahasa bila kita tidak mengenalnya. amati kehidupan, maka kamu akan menemukan bahasa sejati. bahasa sanubari dan ekspresi


Januari 26, 2011

PEDOMAN MENULIS KARYA ILMIAH


Penulisan karya ilmiah
I.                   Standar kompetensi
Memahami penulisan karya ilmiah

II.                Tujuan
1.      Peserta didik dapat menyusun laporan penelitian tindakan kelas
2.      Peserta dapat menyusun karya ilmiah dalam bentuk artikel jurnal ilmiah
3.      Peserta dapat mendiseminasikan laporan penelitian tindakan kelas

III.             Strategi kegiatan
1.      Ceramah singkat tentang penulisan karya ilmiah
2.      Demontrasi tentang penulisan karya ilmiah
3.      Latihan/workshop terstruktur
4.      Tugas mandiri

IV.             Materi
A.    Pendahuluan
Anda sebagai guru tentu sudah sering mendengar kata “laporan” dan anda pasti tahu apa yang dimaksud dengan laporan tersebut. Dalam The Shorter Oxford English Dictionary (Fletcher  yang dikutip wardani dkk., 2004), laporan memiliki dua pengertian atau definisi, yaitu: (i) cerita yang dibawakan oleh seseorang kepada orang lain, terutama tentang sesuatu hal yang diteliti secara khusus; dan (ii) pernyataan formal tentang hasil penelitian, atau hal apa saja yang memerlukan informasi yang pasti, yang dibuat oleh seseorang atau badan yang diperintahkan atau diharuskan untuk melakukan hal itu. Lalu apa yang dimaksud dengan laporan dalam modul PTK ini? Laporan PTK termasuk definisi yang kedua. Ada beberapa jenis laporan mulai dari yang sederhana sampai dengan jenis yang lebih tinggi. Yang sederhana misalnya rapor sekolah, laporan hasil praktikum, dan hasil tes laboratorium. Sedangkan laporan PTK termasuk jenis laporan lebih tinggi penyajiannya. Tujuan menulis laporan secara sederhana adalah untuk mencatat, memberitahukan, dan merekomendasikan hasil penelitian. Dalam penelitian biasa, laporan merupakan hasil penelitian yang berupa temuan baru dalam bentuk teori, konsep, metode, dan prosedur, atau permasalahan yang perlu dicarikan cara pemecahannya. Namun untuk mengimplementasikannya memerlukan waktu yang cukup panjang. Hasil penelitian formal dipublikasikan melalui seminar, pengkajian ulang, analisis kebijakan, pendiseminasian dan sebagainya, yang memerlukan waktu cukup lama, sehingga pada saat dilakukan implementasi, temuan tersebut sudah kadaluarsa dan tidak sesuai lagi.
Meskipun demikian, dalam PTK, setiap hasil penelitian selalu diikuti dengan tindakan (action), kemudian diobservasi untuk mengamati apakah masalah dapat diatasi, atau muncul masalah lain, kemudian menyusun rencana kembali untuk tindakan selanjutnya dan seterusnya. Dalam hal tersebut seorang peneliti PTK, barangkali tidak harus menyampaikan laporannya terhadap orang lain, kecuali untuk dirinya sendiri. Selain itu, karena kegiatan PTK dilaksanakan secara kontinyu dan berulang, maka seorang peneliti PTK tidak sempat menulis laporan penelitiannya. Namun untuk kepentingan studi, atau untuk peningkatan kualitas pembelajaran seorang peneliti PTK harus melaporkan hasil penelitiannya. Dengan kegiatan yang terus dan berulang, apakah seorang peneliti PTK akan mengingat semua rangkaian kegiatan yang pernah dan sudah ia lakukan? Bagaimana jika masalah seperti yang ditemukan dalam PTK pertama pada suatu saat berulang kembali, apakah guru akan masih mengingatnya? Bagaimana jika ada guru lain yang memiliki masalah yang sama dan tidak mempunyai ide untuk mengatasinya, kemana ia harus mencari bantuan? Pertanyaan ini akan terus bergulir, dan tidak pernah akan terjawab jika guru yang pernah melakukan PTK tidak menuliskan laporan PTK-nya, ia tidak mempunyai dokumen sedikitpun yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Berdasarkan uraian diatas, laporan PTK perlu dibuat oleh para peneliti untuk beberapa kepentingan antara lain sebagai berikut.
1.      Sebagai dokumen penelitian, dan dapat dimanfaatkan oleh guru atau dosen untuk diajukan sebagai bahan kenaikan pangkat.
2.      Sebagai sumber bagi peneliti lain atau peneliti yang sama dalam memperoleh inspirasi untuk melakukan penelitian lainnya.
3.      Sebagai bahan agar orang atau peneliti lain dapat memberikan kritik dan saran terhadap penelitian yang dilakukan.
4.      Sebagai acuan dan perbandingan bagi peneliti untuk mengambil tindakan dalam menangani masalah yang serupa atau sama. 

B.     Sistematika Laporan PTK
Sistematika laporan merupakan bagian yang sangat mendasar dalam sebuah laporan karena akan merupakan kerangka berfikir yang dapat memberikan arah penulisan sehingga memudahkan anda dalam menulis laporan. Sistematika atau struktur ini harus sudah ada persiapan sebelum penelitan dilakukan, yaitu pada saat anda menulis proposal. Setelah PTK selesai dilakukan, anda mulai melihat kembali struktur tersebut untuk dilakukan perbaikan dan penyempurnaan sesuai dengan pengalaman anda dalam melakukan PTK, serta data informasi yang sudah dikumpulkan dan dianalisis. Dengan demikian anda dan teman anda tidak akan kehilangan “jejak”, dan ini akan memperlancar anda dalam menulis laporan. Selain itu, apabila anda telah memiliki format laporan sejak awal akan sangat membantu anda dalam mengumpulkan data, dan ini akan membantu pula dalam pengumpulan data.
Pada dasarnya, laporan PTK hampir sama dengan laporan jenis penelitian lainnya. Meskipun begitu, setiap institusi bisa saja menetapkan format tersendiri yang bisa berbeda dengan format dari institusi lain. Format yang ditetapkan oleh Lembaga Penelitian Unesa, misalnya, bisa berbeda dari format yang digunakan oleh Ditjendikti atau Universitas Terbuka. Apabila PTK yang anda lakukan memperoleh pendanaan dari institusi tertentu, maka sistematika laporan juga perlu disesuaikan dengan format yang telah ditentukan oleh pihak pemberi dana penelitian. Namun bila dibandingkan satu sama lain, sebenarnya setiap format menyepakati beberapa komponen yang dianggap perlu icantumkan dan dijelaskan. Sistematika laporan PTK dibawah ini merupakan modifikasi dari berbagai sumber (Hopkins, 1993; wardhani,2007, Lembaga Penelitian Unesa, 2007):

Halaman Judul
Judul laporan PTK yang baik mencerminkan ketaatan pada rambu-rambu seperti: gambaran upaya yang dilakukan untuk perbaikan pembelajaran, tindakan yang diambil untuk merealisasikan upaya perbaikan pembelajaran, dan setting penelitian. Judul sebaiknya tidak lebih dari 15 kata.

Lembar Pengesahan
Gunakan model lembar pengesahan yang ditetapkan oleh institusi terkait.

Kata Pengantar

Abstrak
Abstrak sebaiknya ditulis tidak lebih dari satu halaman. Komponen ini merupakan intisari penelitian, yang memuat permasalahan, tujuan, prosedur, pelaksanaan penelitian/tindakan, hasil dan pembahasan, serta kesimpulan dan saran

Daftar Isi

Bab I. Pendahuluan
Bab ini memuat unsur latar belakang masalah, data awal tentang permasalahan pentingnya masalah dipecahkan, identifikasi masalah, analisis dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta definisi istilah bila dianggap perlu. Urutan penyajian bisa disusun sebagai berikut:
A.    Latar Belakang Masalah (data awal dalam mengidentifikasi masalah, analisis masalah, dan pentingnya masalah dipecahkan)
B.     Rumusan Masalah
C.     Tujuan Penelitian
D.    Manfaat Penelitian
E.     Definisi Operasional (bila perlu)

Bab II. Kajian Pustaka
Kajian pustaka menguraikan teori terkait dan temuan penelitian yang relevan yang memberi arah ke pelaksanaan PTK dan usaha peneliti membangun argumen teoritik bahwa dengan tindakan tertentu dimungkinkan dapat meningkatkan mutu proses  dan hasil pendidikan dan pembelajaran, bukan untuk membuktikan teori. Bab ini diakhiri dengan pertanyaan penelitian dan atau hipotesis. Urutan penyajian yang bisa digunakan adalah sebagai berikut:
A.    Kajian Teoritis
B.     Penelitian-penelitian yang relevan (bila ada)
C.     Kajian Hasil Diskusi (dengan teman sejawat, pakar pendidikan, peneliti)
D.    Hasil Refleksi Pengalaman Sendiri sebagai Guru
E.     Perumusan Hipotesis Tindakan

Bab III. Pelaksanaan Tindakan dan Observasi
Bab ini berisi unsure-unsur seperti diskripsi lokasi, waktu, mata pelajaran, karakteristik siswa di sekolah sebagai subyek penelitian. Selain itu, bab ini juga menyajikan gambaran tiap siklus: rancangan, pelaksanaan, cara pemantauan beserta jenis instrument, usahavalidasi hipotesis, dan cara refleksi. Tindakan yang dilakukan bersifat rasional dan feasible serta collaborative. Urutan penyajian bisa disusun sebagai berikut:
A.    Subyek Penelitian ( Lokasi, waktu, mata pelajaran, kelas, dan karakteristik siswa)
B.     Deskripsi per Siklus ( rencana, pelaksanaan, pengamatan/pengumpulan data/instrument, refleksi)

Bab IV. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Bab IV menyajikan uraian masing-masing siklus dengan data lengkap, mulai dari perencanaan,  pelaksanaan pengamatan dan refleksi yang berisi penjelasan tentang aspek keberhasilan dan kelemahan yang terjadi. Perlu ditambahkan hal yang mendasar yaitu hasil perubahan (kemajuan) pada diri siswa, lingkungan, guru sendiri, motivasi dan aktivitas belajar, situasi kelas, hasil belajar. Kemukakan grafik dan tabel secara optimal, hasil analisis data yang menunjukkan perubahan yang terjadi disertai pembahasan secara sistematik dan jelas.
A.    Deskripsi per Siklus (data tentang rencana, pengamatan, refleksi), keberhasilan dan kegagalan, lengkap dengan data)
B.     Pembahasan dari tiap siklus
 
Bab V. Simpulan dan Saran
A.    Simpulan
B.     Saran


C.     Landasan Penulisan karya Ilmiah
Kegiatan penyusunan karya ilmiah, baik berupa hasil penelitian maupun makalah tanpa penelitian, merupakan kegiatan erat kaitannya dengan aktivitas guru. Namun ada sebagian guru – bahkan mungkin sebagian besar – yang menganggap bahwa membuat suatu karya ilmiah adalah pekerjaan yang sulit dan memerlukan banyak tenaga, pikiran, dan waktu. Oleh sebab itu karya ilmiah yang dihasilkan oleh guru, setiap tahunnya sangat terbatas jumlahnya, itupun dengan kualitas yang belum terlalu memadai. Dari segi substansi keilmuan maupun dari segi metodologi dan sistematikanya masih perlu dibenahi. Kondisi ini tentunya tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, karena karya ilmiah adalah bagian dari tugas professional guru yang seharusnya dipenuhi. Selain itu, dengan sering menyusun karya ilmiah, sebenarnya ada proses mengasah wawasan , logika, dan penalaran, agar lebih kritis, kreatif, dan berpengetahuan luas.
Beberapa kualifikasi yang diperlukan untuk dapat menulis karya ilmiah dengan baik antara lain adalah:
1.      Pengetahuan dasar tentang penulisan karya ilmiah, baik yang berkaitan dengan teknik penulisan maupun yang berkenaan dengan notasi ilmiah. Di samping itu, keterampilan menggunakan bahasa penulisan dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku
2.      Memiliki wawasan yang luas mengenai bidang kajian keilmuan
3.      Pengetahuan dasar mengenai metode penelitian 

D.    Sistematika Artikel Ilmiah
Artikel ilmiah adalah karya tulis yang dirancang untuk dimuat dalam jurnal atau buku kumpulan artikel yang ditulis dengan tata cara ilmiah dengan mengikuti pedoman atau konvensi yang telah sisepakati atau ditetapkan. Artikel ilmiah bisa diangkat dari hasil penelitian lapangan, hasil pemikiran dan kajian pustaka, atau hasil pengembangan proyek. Dari segi sistematika penulisan dan isinya, artikel dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu artikel hasil penelitian dan artikel non penelitian. Secara umum, isi artikel hasil penelitian meliputi: judul artikel, nama penulis, abstrak dan kata kunci, pendahuluan, metode, hasil dan pembahasan, kesimpulan dan saran, dan daftar rujukan. Sedangkan artikel non penelitian berisi judul, nama penulis, abstrak, dan kata kunci, pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar rujukan.

Isi artikel penelitian diuraikan berikut ini:
1.      Judul
Judul artikel berfungsi sebagai label yang menginformasikan inti isi yang terkandung dalam artikel secara ringkas. Pemilihan kata sebaiknya dilakukan dengan cermat agar selain aspek ketepatan, daya tarik judul bagi pembaca juga dipertimbangkan. Judul artikel sebaiknya tidak lebih dari 15 kata.

2.      Nama Penulis
Nama penulis artikel ditulis tanpa gelar, baik gelar akademik maupun gelar lainnya. Nama lembaga tempat penulis bekerja biasanya ditulis di bawah nama penulis, namun boleh juga dituliskan sebagai catatan kaki di halaman pertama. Apabila penulis lebih dari dua orang, maka nama penulis utama saja yang dicantumkan di bawah judul, sedangkan nama penulis lainnya dituliskan dalam catatan kaki.

3.      Abstrak dan Kata Kunci
Abstak dan kata kunci ( key words) berisi pernyataan yang mencerminkan ide-ide atau isu-isu penting dalam artikel. Untuk artikel hasil penelitian, prosedur penelitian  (untuk penelitian kualitatif termasuk diskripsi tentang subyek yang diteliti), dan ringkasan hasil penelitian, tekanan diberikan pada hasil penelitian. Sedangkan untuk artikel nonpenelitian, abstrak berisi ringkasan isi artikel yang dituangkan secara padat, bukan komentar atau pengantar dari penyunting. Panjang abstrak 50-75 kata, dan ditulis dalam satu paragraph.
Kata kunci adalah kata pokok yang menggambarkan daerah masalah yang dibahas dalam artikel atau istilah-istilah yang merupakan dasar pemikiran gagasan dalam karangan asli berupa kata tunggal atau gabungan kata.jumlah kata kunci antara 3-5 kata. Perlu diingat bahwa kata kunci tidak diambil dari kata-kata yang sudah ada di dalam judul artikel.

4.      Pendahuluan
Pendahuluan tidak diberi judul, ditulis langsung setelah abstrak dan kata kunci. Bagian ini menyajikan kajian pustaka yang berisi paling sedikit tiga gagasan: (1) latar belakang masalah atau rasional penelitian, (2) masalah dan wawasan rencana pemecahan masalah, (3) rumusan tujuan penelitian (dan harapan tentang manfaat hasil penelitian).
Sebagai kajian pustaka, bagian ini harus disertai rujukan yang dapat dijamin otoritas keilmuan penulisnya. Kajian pustaka disajikan secara ringkas, padat dan mengarah tepat pada masalah yang diteliti. Aspek yang dibahas dapat mencakup landasan teoretis, segi historis, atau segi lainnya yang dianggap penting. Latar belakang atau rasional hendaknya dirumuskan sedemikian rupa, sehingga mengarahkan pembaca ke rumusan penelitian yang dilengkapi dengan rencana pemecahan masalah dan akhirnya ke rumusan tujuan.
Apabila anda menulis artikel nonpenelitian, maka bagian pendahuluan berisi uraian yang mengantarkan pembaca pada topic utama yang akan dibahas. Bagian ini mengikuti bagian selanjutnya. Selain itu, bagian ini juga diakhiri dengan rumusan singkat tentang hal-hal yang akan dibahas.

5.      Bagian Inti
Bagian ini berisi 3 (tiga) hal pokok, yaitu metode, hasil, dan pembahasan. Pada bagian metode disajikan bagaimana penelitian dilaksanakan. Uraian disajikan dalam beberapa paragraph tanpa atau dengan subbagian. Yang disajikan pada bagian ini hanyalah hal yang pokok saja. Isi yang disajikan berupa siapa sumber datanya (subyek atau populasi dan sampel), bagaimana data dikumpulkan (instrumen dan rancangan penelitian), dan bagaimana data dianalisis (teknik analisis data). Apabila didalam pelaksanaan penelitian ada alat dan bahan yang digunakan, maka spesifikasinya perlu disebutkan.

6.      Penutup
Istilah penutup digunakan sebagai judul bagian akhir dari sebuah artikel nonpenelitian, jika isinya berupa catatan akhir atau yang sejenisnya. Namun apabila bagian akhir berisi kesimpulan hasil pembahasan sebelumnya, maka istilah yang dipakai adalah kesimpulan. Pada bagian akhir ini dapat juga ditambahkan saran atau rekomendasi.
Untuk artikel hasil penelitian, bagian penutup berisi kesimpulan dan saran yang memaparkan ringkasan dari uraian yang disajikan pada bagian hasil dan pembahasan. Kesimpulan diberikan dalam bentuk uraian verbal, bukan numeric. Saran disusun berdasarkan kesimpulan yang telah dibuat. Saran dapat mengacu pada tindakan praktis, atau pengembangan teotetis, atau penelitian lanjutan.

7.      Daftar Rujukan/Pustaka
Daftar rujukan berisi daftar dokumen yang dirujuk dalam penyusunan artikel. Semua bahan pustaka yang dirujuk yang disebutkan dalam batang tubuh artikel harus disajikan dalam daftar rujukan dengan urutan alfabetis. Gaya selingkung dalam menyusun daftar pustaka bisa bervariasi, bergantung pada disiplin ilmu yang menjadi payung artikel ilmiah anda atau jurnal yang akan memuat artikel anda. Bidang pendidikan atau Psikologi sering menggunakan format APA (American Psychological Association), sedangkan disiplin ilmu sejarah menggunakan Turabian Style atau Chicago Manual, dan bidang Bahasa dan Sastra menggunakan MLA (Modern Language Association). Apapun gaya yang anda gunakan, pastikan bahwa gaya penulisan anda konsisten dan sesuai dengan format yang ditetapkan oleh jurnal/media yang akan menampung tulisan anda. Untuk itu, anda perlu mencermati lebih dahulu format seperti apa yang harus anda ikuti sebelum memulai menulis/menyunting artikel ilmiah anda. Secara umum, yang harus dicantumkan dalam rujukan (berupa buku) adalah: nama pengarang, tahun penerbitan, jadual karangan, kota tempat penerbitan, dan penerbitnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar