MAAFKAN
AKU
Genap sudah satu bulan
aku menghilang dari kehidupan cinta yang tak terjawab oleh adik yang kucintai
dari Tulungagung, dan begitu cepatnya aku berubah haluan cinta kepada seorang
gadis yang aku rasa sangat cantik. Dia adalah teman kuliahku satu Fakultas
namun beda Jurusan. Awal aku mencintainya sebenarnya sudah terasa sejak lama,
namun karena ku tau ia telah memiliki pacar dan aku masih berusaha mengikat
diri karena masih mencintai temanku yang juga satu Fakultas maka aku urungkan
niatanku itu. Namun ketika aku membaca buku “Dalam Mihrab Cinta” dan melihat
aku membaca buku itu maka timbullah niatnya untuk meminjam buku itu, buku aku
pinjamkan setelah aku selesai membacanya. Waktu itu buku aku pinjamkan pada
hari jum’at tanggal 21 Januari 2011 usai aku pulang dari materi kuliah tambahan
dosen mata kuliah pemasaranku. Buku aku antarkan ke rumahnya karena ia meminta
aku mengantarkannya dikarenakan ia masih sibuk dengan tugasnya di rumah. Buku
aku antarkan dan aku berhenti di rumahnya hanya sebentar bersama temanku yang
dari medan yang kuliahnya sana dengan kami. Karena hari jum’at aku harus segera
pulang.
Berawal dari itulah
bersemi bunga cintaku kepadanya setelah ku tahu kalau dia sudah tidak ada yang
memiliki lagi. Memiliki jiwanya karena yang mencintainya telah meninggalkan
dirinya dalam kesendirian. Aku mencoba masuk ke dalam hatinya dan aku mencoba
mengerti akan apa yang ada dalam dirinya, apa yang terjadi dengannya. Aku terus
mendekat dengannya dan iapun mendekat denganku. Perasaan bahagia yang teramat
sangat aku rasakan. Hal tersebut berjalan beberapa hari, namun ketika aku mulai
menyatakan rasa sayangku padanya iapun menolaknya lantaran hatinya masih
terpaku kepada pacarnya yang lama yang masih membekas. Aku mencoba untuk
menghiburnya dan membuktikan padanya kalau aku akan bisa menjadikannya bahagia
dan melupakan mantannya meskipun itu teramat sulit. Pada tanggal 5 februari 2011 aku merasa frustasi karena
cintaku yang aku katakan kepadanya tak juga mendapat tanggapan yang membuatku
bahagia kembali, justru penolakan semakin kuat dan tak ada rasa padaku. Hari
sabtu itu aku memintanya menemuiku di masjid sebelah PMI kota tapi ia menolak
dan memintaku menemuinya di masjid Agung. Pukul 9.00 rencana ketemuannya.
Akupun dengan sangat bingung tuk menyatakan perasaanku padanya secara langsung,
aku membawa al qur’an tuk ku mengaji dan juga membawa sebilah belati untuk mengakhiri
penderitaan cintaku.
Aku dengan mengendari
sepeda motor menuju ke masjid dan kemudian menunggunya di sebelah beduq dengan
terlebih dahulu melaksanakan shalat tahiyat masjid. Baru kemudian mengaji al
qur’an sampai ia datang. Usai mengaji aku memintanya berwudhu namun tak juga
kunjung dilakukan sehingga aku tak bisa mengatakan apa yang sebenarnya mau aku
katakan. Waktu berjalan lama dan kata-katanya yang mencoba agar aku mengatakan
apa yang ku mau tak sanggup membuka mulutku, hingga akhirnya aku mengambil air
wudhu dan kemudian melaksanakan shalat duha, setelah itu memberikan secarik
kertas agar ia melakukan kepadaku agar menusukkan belati ketika aku shalat duha
tak kesampaian dan kemarahannya membuatku semakin tak kuasa. Ia
membodoh-bodohkan tindakanku dan kemudian berusaha menenangkanku. Akupun tenang
setelah ia memberi secercah harapan agar aku membuat ia cinta kepadaku dengan
cara yang baik dan wajar. Akupun berusaha melakukan itu dan aku terus berusaha
memberikan apa yang bisa aku berikan kepadanya. Perhatian, cinta, atau apapun
yang bisa aku berikan. Buku, aku ajak makan bareng, aku temanin bepergian
sampai ke Jombang hanya untuk mencari Bros untuk usahanya.
Satu bulan sudah aku
mencoba bertahan dan mencoba menemukan jawaban akan mau dibawa kemana hatiku
ini. Aku masih berusaha mencintainya dan terus menyakinkannya. Apapun
kesibukanku aku katakana padanya begitu pula ia selalu mengkonfirmasiku. Namun sejak
acara kemarin tanggal 23 pebruari 2011
ke WBL lamongan sepulangnya dari sana aku masih bisa biasa dengan
kata-kata yang aku ucapkan kepadanya. Menjelang mau tidur tiba-tiba ia masih
memberikan penolakan akan cintaku dan mengatakan menjalin hubungan dengan orang
lain dan akan menikah usai wisuda. Akupun menjadi gundah gulana dan aku mencoba
mencari kebenarannya. Hingga malam pukul 22.30 WIB aku masih mengorek
keterangan darinya. Pagi hari aku masih mencoba mencari jawabannya dan tak
kunjung aku mendapatkannya, penolakannya semakin kuat dan membuat hatiku
menangis dan hatiku merinding teriris
sakit. Akupun tak kurang akal untuk tetap mengorek keterangan darinya
meskipun aku sakit dihati. Meskipun lukaku semakin menjadi ditambah badanku
yang memang sakit. Aku minta nomer cowok yang dicintainya itu dan iapun tak
kunjung memberikan jawabannya. Akupun terus memaksanya untuk menberikan
nomernya dan akhirnya ia memberikan.
Aku hubungi nomer itu
dan aku katakana yang sesungguhnya kalau aku mencintainya. Aku bertanya
bagaimana hubungan mereka berdua? Iapun menyebutkan namanya Heri dan mengatakan
kalau ia kenal widya bahkan kedua keluarganya juga sudah saling mengenal dan
antara mereka di jodohkan dan akan menikah seusai wisuda. Pupus sudah harapanku
dan aku pun mencoba menegarkan diri. Aku meminta agar ia jangan sekali-kali
menyakiti hatinya dan akan selalu menjaganya. Ia berjanji akan melakukan itu
dan aku lega. Kini detik ini, malam jum’at tanggal 24 Pebruari 2011 tepat satu
bulan sebelum ulang tahunku. Aku ikhlaskan melepaskannya dariku untuk orang
yang telah dijodohkan dengannya. Meskipun aku heran jaman Siti Nurbaya masih
berlaku di keluarganya. Masa bodoh dengan itu semua, semakin aku pikirkan maka
akan semakin menyiksaku. Tuhan hanya pada-Mu hamba meminta yang terbaik untuk
hamba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar